Mengintip Curitiba, Kota Hijau Kelas Dunia

Kalau ada yang bertanya kepada saya, kota mana yang paling ingin dikunjungi?, maka jawaban yang akan saya berikan tentu saja Curitiba, di Brazil. Kota “hijau” yang berwawasan lingkungan, dan mempunyai transportasi berkelanjutan sejak dekade 1970-an itu sebelumnya memang lebih dikenal di kalangan akademisi dan ahli perencana Kota. Kini nama kota itu kembali disebut banyak media ketika FIFA memberikan konfirmasi sebagai salah satu venue Piala Dunia 2014.
Nama Curitiba pertama sekali penulis dengar dari teman pengajar pada sekolah pascasarjana Perencanaan Kota di sebuah Universitas di Australia. Masih ingat dalam kenangan saat Jeff Kenworthy, kini professor perkotaan, menjelaskan secara detail proses perencanaan dan pembangunan Curitiba, sebuah kota menengah yang indah. Kunci-kunci yang diberikan Jeff masih merupakan arus utama di kalangan akademisi, bagaimana membangun transportasi kota yang berkelanjutan dan terbaik sejagad raya, nyaman, hijau, bersih dan tentu saja bebas banjir dan macet itu.
Kini setiap hari 1000 pohon ditanam di sekitar hutan kota yang berjumlah 14 (empat belas) tersebar di berbagai lokasi kota, bukti tiada hari tanpa penghijauan. Curitiba juga memiliki 16 taman kota yang luas dan indah dan 1000 lebih ruang terbuka hijau. Sehingga setiap penduduk Curitiba memiliki akses sebesar 52 meter persegi alam terbuka, sebuah aset yang luar biasa. Tidak berlebihan apabila Curitiba memiliki julukan sebagai salah satu kota hijau terbesar di dunia.
Sudah sangat banyak tulisan baik ilmiah maupun nonakademik yang menulis keutamaan dari Curitiba, namun tidak ada salahnya, mengintip kembali untuk memberikan inspirasi bagi para walikota/ bupati di Indonesia mengenal tentang bagaimana Curitiba dibangun.
Kini Curitiba menjadi best practice bagi hampir seluruh di semua sekolah pascasarjana Universitas-universitas ternama di seluruh dunia. Tidak salah bila Curitiba kini menjadi a global model for development, sebuah kota idaman di negara berkembang. Puluhan penghargaan kelas dunia diraihnya, juga telah menjadi idola petingi United Nation sejak lama, selain juga Bogota yang layak disebut sebagai ibukota terbaik di negara berkembang.
Sebagai pengamat kota-kota di negara berkembang, penulis ingin konsep dasar pembangunan Curitiba diterapkan di kota-kota negara di mana saat ini penulis bekerja. Memang agak unik, bagaimana seseorang dapat mengagumi dan menguasai “kunci-kunci” pembangunan kota berkelanjutan dan hanya mempelajari melalui penelitian akademik tetapi belum pernah mengunjunginya.
Yang jelas dan terpenting kini konsep dasar Curitiba telah berhasil diletakkan untuk membangun sebuah kota dan bermaslahat untuk masyarakatnya.
Livability
Telah banyak survei kelayakan/kenyaman hidup warganya dilakukan, dan 99 persen penduduk Curitiba menyatakan sangat puas (livable), mereka tidak ingin meninggalkan kotanya. Hal ini berbanding terbalik dengan warga kota New York yang 60 persen warganya ingin meninggalkan kota kaya dan kosmopolitan itu. Begitu juga dengan 70% warga Sao Paolo yang justru ingin pindah dan berdomisili di Curitiba.
Barangkali apabila dilakukan survei untuk kota Jakarta, maka akan sama hasilnya dengan New York, akan banyak warganya yang ingin pindah akibat ketidaknyamanan dan berbagai masalah sosial yang dihadapi warga Jakarta akhir-akhir ini.
Beberapa konsep dasar Curitiba itu di antaranya:
1. Curitiba memiliki konsep pencegahan banjir yang unik, konsep “channelize” yaitu pengendalian banjir dengan membangun waduk/bendungan kecil-kecil untuk mendayagunakan air yang mengalir melalui 5 (lima) sungai yang mengalir melalui sebuah danau yang cukup besar.
2. 85 % warga kota yang kini sekitar 2 juta jiwa menggunakan sistem transportasi terintegrasi yang beroperasi 24 jam. Meski jumlah mobil lebih banyak, namun sadar transportasi merupakan kunci keberhasilan Curitiba. Begitu juga apabila transportasi massal Jakarta sudah seperti Singapura misalnya, tentu akan merubah mindset warga Jakarta menjadi sadar transportasi umum.
Integrasi transportasi “street technology“. Curitiba membangun jaringan transportasi bus dengan konsep versatile form dan mengoperasikannya sejak 1974. Stasiun bus “tabung gelas” Novo Bairro misalnya, menghubungkannya dengan seluruh kantong-kantong kota. Penumpang perjalanan antara beberapa titik untuk hanya satu tarif (konsep Park n Ride).
Dengan membuat setiap panjang perjalanan hanya dengan tarif tunggal dan terjangkau, keinginan untuk kendaraan pribadi berkurang. Hal ini mendorong pendekatan ekologi untuk perjalanan intrakota, semakin sedikit mobil di jalan, semakin sedikit polusi yang ada. Ini yang akan ditiru Jakarta, penulis berharap semoga bisa terwujud.
Kata kunci “integrasi” itu menjadi icon bagi partisipasi seluruh warga kotanya, kaya-miskin merajut bersama budaya, ekonomi dan terlibat di semua lini. Mendudukkan warga sebagai “citizen” yang sebenarnya, bukan sebagai konsumen yang dibebani bermacam-macam pungutan.
3. Kota inovatif, kota seperti Curitiba dirancang untuk menghasilkan efek yang menguntungkan – seperti warga merasa lebih aman di malam hari, memperbanyak menanam pohon dan memperindah taman kota, penghapusan billboard, dan inovasi manajemen yang menentukan arus lalu lintas, memasyarakatkan kebersihan di setiap sudut kota, serta menggunakan daur ulang guna membangun kembali kotanya.
Di Curitiba 60% bahan bangunan mempergunakan bahan daur ulang, sehingga benar-benar kota hijau yang berkelanjutan. Kita Curitiba juga telah berubah merupakan kota Wisata andalan negara Brazil.
4. Psikogeografi, adalah studi tentang efek dari lingkungan kota untuk menjadikan secara sadar atau tidak mengubah perilaku warga kotanya meningkatkan kualitas hidup kotanya. Sistem ini juga melihat bagaimana sebuah kota mempengaruhi karakter warga kotanya. Konsep Psikogeografi dapat digunakan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, membuat jalan setapak yang lebih aman, dan mengurangi jejak karbon negatif sebuah kota, dan berhasil dilakukan di Curitiba, dan kini akan ditiru Ha Noi serta Ho Chi Minh City.
5. Ecologically Sustainable Concepts. konsep kota ekologi ini dimulai dari sekolah, anak-anak dari TK hingga perguruan tinggi, sudah masuk dalam benak mereka bahwa Curitiba dibangun sebagai kota yang menyatu dengan alam, sangat ekologis.
Juga tentang gagasan jalur kereta api – yang berjalan dalam sebuah lingkaran panjang tanpa awal atau akhir selama 24 jam- adalah implementasi gagasan dalam mewujudkan kota yang berkelanjutan, dan konsep itu adalah merupakan contoh yang indah untuk diwujudkan. Dengan konsep-konsep ini dalam tindakan nyata, Curitiba adalah sebuah contoh anomali di dunia ini. Tetapi, mudah-mudahan, tidak lama, karena lebih banyak kota-kota yang berusaha untuk meniru prestasinya.
6. Curitiba sebagai kota di negara berkembang, mempunyai berbagai kelemahan namun dapat diselesaikannya dengan cepat, mengapa? Karena Curitiba mempunyai mindset atau paradigma yang berbeda. Di banyak kota, para pejabatnya banyak yang mempunyai sindrom dalam melihat sisi fisik kota “tidak bisa diubah”. Itu merupakan “longstanding habit“, juga menjadi paradigma pejabat Bappeda dan Dinas terkait di Pemda DKI Jakarta. Di Cutitiba, semua bisa diubah!
Tidak semua konsep Curitiba dapat ditulis di artikel ini, namun beberapa konsep pendek di atas seyogyanya menjadikan semua warga kota di Indonesia untuk mau mengintip, ternyata ada sebuah kota yang bisa dijadikan “benchmark‘ bagi kota, sebuah contoh kota “surga” di dunia.
Curitiba…ooohhh Curitiba
Kompasiana/ Irham Wp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*