Regulasi, Kunci Perkembangan Ekonomi Kreatif

MariElkaPangetu

Potensi ekonomi kreatif di Indonesia sangat besar dan cenderung terus berkembang. Ekonomi kreatif merupakan kekuatan baru ekonomi Indonesia untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Mengandalkan modal dan teknologi tidak lagi cukup untuk mempertahankan daya saing dan pertumbuhan ekonomi. Dalam pendekatan ilmu ekonomi, dibutuhkan juga kreativitas, ide kreatif, dan inovasi untuk menciptakan nilai tambah. Hal tersebut disampaikan mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, dalam acara pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Tidak Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, di Balai Sidang UI, Depok, Sabtu 8 Agustus lalu.

Menurut Mari, untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi kreatif dalam negeri ada sejumlah isu strategis yang harus diatasi salah satunya adalah kelembagaan ekonomi kreatif yang di dalamnya mencakup masalah regulasi. Regulasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan ekonomi kreatif.

“Regulasi yang diperlukan di sini juga terkait pendidikan, apresiasi, pelestarian sumber daya alam, dan pembiayaan,” jelasnya.

Bagaimanapun, kata Mari, sebuah ide atau inovasi memerlukan biaya sejak tahap awal sehingga perlu mendapatkan perlindungan regulasi. Regulasi yang sangat relevan dalam konteks ini adalah pengaturan hak kekayaan intelektual seperti hak cipta, merek, desain industri, dan paten. Dengan terjaminnya hak kekayaan intelektual ide kreatif dan inovasi akan terus mengalir dari pencetus ide, sehingga pencetus ide kreatif tersebut mendapatkan manfaat ekonomi dari hasil karyanya.

“keberadaan hak kekayaan intelektual merupakan produk hukum yang penting agar ide dan inovasi terus berkembang,” tegasnya.

Selain kelembagaan ekonomi kreatif, Mari berpendapat masih ada isu strategis lain yang perlu mendapat perhatian. Mulai dari ketersediaan SDM kreatif, ketersediaan bahan baku, daya saing, ketersediaan pembiayaan, perluasan pasar, hingga ketersediaan infrastruktur dan teknologi.kabarCSR/ika.

Leave a Reply